Monthly Archives: November 2017

PEMENUHAN NUTRISI BAGI LACTOSE INTOLERANT


Pada usia tahun pertama kehidupan, sistim imun seorang anak relatif masih imatur dan sangat rentan. Sehingga pemberian asupan pada anak harus sangat diperhatikan mulai dari apa yang diberi hingga dosis yang diberikan. Makanan awal ketika bayi lahir tentunya berasal dari susu, terutama karena bayi baru lahir belum dapat mengkonsumsi hal lain. Susu sapi adalah protein asing utama yang diberikan kepada seorang bayi. Namun dapat terjadi beberapa kasus seperti ASS (Alergi Susu Sapi) dan lactose intolerant. Lactose intolerant adalah sebutan bagi orang yang metabolisme tubuhnya tidak dapat mencerna laktosa. Masyarakat seringkali salah dalam mengartikan hal tersebut, karena sesungguhnya hal ini berbeda dengan alergi susu sapi. ASS adalah suatu penyakit yang berdasarkan reaksi imunologis yang timbul sebagai akibat pemberian susu sapi atau makanan yang mengandung susu sapi dan reaksi ini dapat terjadi segera atau lambat. Perbedaan umur dapat mempengaruhi ketahanan seseorang terhadap intoleransi laktosa. Bisa jadi seorang anak ketika masih kecil menderita lactose intolerant namun ketika beranjak dewasa tidak. Hal tersebut dapat terjadi karena metabolisme sang anak dapat berubah. Namun bagaimana anak dapat mendapat nutrisi penting dari susu juga ketika tidak dapat mencerna laktosa? Anak-anak dan orang dewasa yang menderita intoleransi laktosa tidak perlu menghindari makanan yang mengandung laktosa sepenuhnya, tergantung dari kemampuan tiap individu untuk mentoleransi laktosa. Banyak penderita juga mampu mentoleransi laktosa dengan mengkonsumsi produk susu dalam porsi kecil. Intoleransi laktosa sangat berhubungan dengan dosis laktosa yang dicerna. Suatu penelitiaan menunjukkan bahwa konsumsi rendah laktosa di bawah 7 gram tidak menunjukkan adanya gejala pada intoleransi laktosa. Produk susu yang dapat ditoleransi oleh penderita intoleransi laktosa adalah produk susu dengan bentuk padat ataupun semi padat seperti keju ataupun yogurt atau produk susu yang telah dikultur oleh bakteri sehingga bukan produk susu secara langsung melainkan olahannya. Produk lain yang dapat diterima adalah krim, es krim. Pada krim kadar laktosanya adalah 3 gram/125 ml, pada es krim adalah 2,6 hinga 3,1 gram/100 gram, pada yogurt adalah 5 gram/ 250 ml, dan pada keju adalah 2,9 gram/ 100 gram. Sedangkan produk olahan seperti mentega (buttermilk) adalah 10 gram/ 250 ml. Bentuk produk susu seperti es krim, krim, keju, dan yogurt dapat ditoleransi karena pengosongan lambung lebih lambat pada makanan jenis ini daripada susu cair (langsung), dan kadar laktosanya lebih rendah. Yogurt dengan bakteri penghasil asam laktat (Lactobacillus dan Streptococcus spp.) memiliki keuntungan bagi penderita intoleransi laktosa karena adanya β-galaktosidase bakterial pada yogurt yang mampu memecah laktosa. Fermentasi produk susu menyebabkan pemecahan laktosa menjadi bentuk monosakarida. Enzim mikrobial ini sensitif terhadap pembekuan, maka yogurt beku akan lebih sulit ditoleransi.

 

Susu dan produk susu yang banyak mengandung laktosa juga berlimpah akan kalsium. Maka dari itu, penderita intoleransi laktosa yang membatasi pada konsumsi susu atau produksi susu juga beresiko akan defisiensi kalsium. Kalsium memiliki peran penting dalam pertumbuhan tulang khususnya bagi masa kanak-kanak. Hal ini cukup beresiko karena anak dapat mengalami gangguan pertumbuhan dan mineralisasi tulang. Oleh karena itu, suplementasi kalsium diperlukan pada penderita intoleransi laktosa yang membatasi konsumsi susu dan produknya. Sedangkan pada orang dewasa atau lanjut usia rentan terkena osteoporosis, seperti berkurangnya massa tulang.

 

Sumber kalsium, fosfor, dan magnesium selain susu adalah susu soya, yogurt soya, tahu, ikan laut, biji-bijian, kacang-kacangan sayuran dengan warna hijau tua.

Untitled

Selain susu dan produk susu, sumber kalsium tinggi pada beberapa bahan di atas. Makanan-makanan tersebut dapat menjadi alternatif dimana sama tinggi kalsium yang tidak dapat diperoleh pada susu atau produk susu.

 

Suatu penelitian menunjukkan bahwa kalsium tinggi juga dapat diperoleh dari air beras. Telah dilakukan penetuan kandungan karbohidrat, protein dan mineral (kalsium dan besi) dari air rebusan beras dan dibandingkan dengan kandungan parameter yang sama dari susu sapi. Dari tiap 500 gram beras yang direbus dengan 1 liter air diperoleh kandungan karbohidrat 0.024 gr, protein (gr) 1.78, 1.52, dan 1.12, sementara mineral kalsium (mg): 9.48, 0.06, dan 0.24 dan besi (mg): 0.64, 0.32 dan 0.70. Memang kandungan kalsium tidak terlalu tinggi namun dapat digunakan untuk pengganti yang baik karena tidak ada pengawet dalam beras.

 

REFERENSI

 

Barus, Pina. (2005). Studi Penentuan Kandungan Karbohidrat, Protein, dan Mineral dalam Air Rebusan Beras sebagai Minuman Pengganti Susu. Jurnal Sains Kimia (Suplemen) Vol 9, No.3, 2005: 15-16. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Sumatera Utara.

 

Siregar, Sjawitri P., Zakiudin Munasi. (2006). Pentingnya Pencegahan Dini dan Tata Laksana Alergi Susu Sapi. Sari Pediatri, Vol. 7, No. 4, Maret 2006: 237 – 243. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM, Jakarta.

 

Wicaksono, Madya. (2014). Intoleransi Laktosa. Mandala of Health volume 7, nomor 1. Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

Advertisements
Categories: Tugas Sekolah | Leave a comment